Postingan

Potret Kreativitas Anak Bangsa

"Sebagaimana potret, ia hanya menggambarkan sebagian saja, tidak utuh, namun tetap ia dapat dijadikan sebuah simpul dari perubahan yang sedang dan akan terjadi." Tiada yang tahu pasti, bagaimana masa depan mengajarkan anak-anak kelak, dan bagaimana masa depan membuat tiap anak punya cara sendiri bertahan menghadapi benturan perubahan, membekali tiap ruang dalam pikirannya dengan kreativitas, inovasi, dan gaya hidup yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Saat ini, Indonesia belum berdaya dalam mengakomodir keperluan generasi masa mendatang khususnya di Sekolah Menengah Kejujuran (SMK) yang perannya masih sebatas meluluskan mereka menjadi tenaga siap pakai untuk dipekerjakan di korporasi yang sudah mapan. Meningkatnya guru honorer sebesar 860 persen dalam 5 tahun terakhir mengindikasikan ketidakajegan kebijakan pengangkatan guru honorer. Fakta tersebut mengindikasikan perlunya penanganan yang serius dan ketegasan dari Kemendagri agar kepala daerah tidak lagi menga...

Sebuah Tanya di Ujung Jalan

Kita memang tak pernah bisa mengerti waktu karena waktu dibuat untuk terus berjalan  bukan untuk melangkah mundur, apalagi berhenti Begitu pula dengan kehidupan ini kelihatan tua tidak berarti kelihatan pula kematangan jiwa menua dalam usia, namun belum tentu membijak dalam dewasa kita baru bisa mengerti dan menghargai waktu ketika sudah berada di ujung jalan  saat itu yang ada hanya kita dan Tuhan sebuah ujung kehidupan yang sangat menentukan  sudahkah kita menghargai waktu perhatian untuk mereka yang selalu ada untuk kita pasangan dan anak-anak serta orangtua  sehingga nanti, tak begitu banyak tanya di benak tak begitu banyak sesal saat nafas terakhir berhembus tidak akan ada tanya lagi yang ada hanya lepas dan ikhlas dalam tenangnya jiwa  dalam dekap hati orang-orang terkasih

PAUD dan Masa Depan Generasi Emas

Dimuat di Harian Lombok Post, 16 Agustus 2015 Tidak ada guru negeri, tidak ada guru swasta, semua guru adalah guru bangsa. Begitu Winarno Surakhmad, Guru Besar UNJ berujar. Guru harus dihormati, bukan karena penghasilan, melainkan dedikasinya. Dedikasi itu terwujud dalam harmoni meliputi konsistensi antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Pendidik tidak hanya guru, namun juga kecenderungan orang tua yang menjadikan sekolah sebagai tempat penitipan anak an sich. Orang tua dan masyarakat seharusnya tidak sembunyi tangan. Pendidikan anak tetap berada dalam tanggung jawab orang tua, sementara guru hanyalah partner dan fasilitator dalam menunjang kebutuhan anak dalam belajar. Ketika banyak anak yang tidak tertangani dan ditelantarkan, maka efek dominonya pada lingkungan sosial juga besar. Jumlah anak dibawah 15 tahun sekitar 30 % dari jumlah penduduk Indonesia dan jumlah itu akan terus membengkak seiring laju pertumbuhan penduduk.  Tentu saja, tidak mudah menjalani skenario...

Langkah Kecil Menyelamatkan Anak dari Kekerasan

Gambar
Tidak perlu perspektif yang sangat makro dalam melihat persoalan anak. Di sekitar kita, anak-anak banyak mengalami ketidakberdayaan karena posisi mereka yang subordinat sebagai anak, sebagai siswa, dan sebagai anggota masyarakat.  Pernah saya menyaksikan seorang anak dipukuli ibunya bertubi-tubi di sebuah mall di bilangan Jakarta Timur. 5-10 menit saya coba menahan. Karena tidak ada satupun orang bahkan aparat keamanan seperti satpam yang menindak sang ibu tersebut. Orang-orangpun hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa. Lalu, bismillah, saya menghampiri ibu tersebut. Saya katakan untuk berhenti dan menanyakan lebih lanjut mengapa anak ini dipukuli. Si ibu menjawab anaknya susah diatur, padahal kalau dilihat secara fisik, ternyata sang anak penderita autisme.  Dengan tegas, saya katakan padanya untuk ikut saya ke kantor polisi karena tindakan kekerasan tersebut. Si ibu memohon kepada saya dan minta maaf karena sudah menyakiti anaknya. kasih sayang orang tua terhadap ...

Nyawa dan Arti Penting Mensyukuri Kebangsaan

Gambar
Apa arti nyawa? Bagi mereka yang mengerti nyawa, sudah pasti mereka mengerti tentang pentingnya menjaga harapan para pendahulu yang lebih dulu tewas di medan perang. Pengorbanan nyawa tak sebanding dengan sebesar apapun cara kita untuk membangun negeri ini, karena nyawa berarti kematian, tak ada lagi cerita yang bisa ditorehkan kini dan di masa depan. Begitulah para pahlawan memaknai kebangsaan,  merebut kemerdekaan dengan mati, menggugurkan kehidupan sendiri demi kehidupan sesama. Mensyukuri kemerdekaan, berarti mensyukuri kebangsaan kita untuk negeri ini, Indonesia. Tidak mudah bagaimana bangsa ini harus rela dijajah 350 tahun lamanya oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang, namun banyak sekali insan pasca kemerdekaan yang larut dan terhegemoni oleh sikap merendahkan dirinya sendiri di hadapan bangsa lain. Bagaimana kita menjadi tidak begitu spesial, ketika banyak aktor/artis yang minder ketika dihadapkan oleh aktor/artis dari Bollywood. Kita begitu tergila-gila dengan hal ...

Jiwa Sehat, Keluarga Kuat

Ngga usah takut hadapi hari ini dan esok. Satu hal yang perlu diperhatikan, untuk bisa bertahan di zaman penuh ego ini, adalah kesehatan jiwa. Uang boleh saja dicari, tapi kalau sudah kehilangan esensi, sepertinya uang tak lebih berarti daripada waktu berharga untuk keluarga. Jiwa yang sehat, adalah jiwa yang selalu bersih dan berprasangka baik padanya. Namanya manusia, seorang istri atau suami pasti pernah melakukan kekhilafan, tapi hal yang harus diingat, menghindari masalah, bukanlah solusi tepat, terlebih kita sudah memiliki anak2. Keluarga akan buyar, apabila masing-masing orang berpikir tentang masalahnya sendiri-sendiri. Kemunduran ini tentu saja tidak akan membangun, malah merusak pola pikir anak2 sejak dini karena sudah belajar dari ketidakharmonisan keluarganya. Semoga keluarga yang kubangun ini dapat lebih baik lagi ke depannya. Ngga mudah, tapi selalu ada bagi mereka yang ingin berusaha. Aamiin.

Cyberteacher, Bukan Sekadar Guru

Tulisan ini berhasil menjadi juara III LOMBA KARYA TULIS XL AWARD 2014 Persoalan yang mencuat saat ini, apakah cukup kepintaran menjadi dimensi dari berhasilnya sistem pendidikan? Saat siswa/siswi asal Indonesia berhasil memenangkan berbagai penghargaan internasional dalam berbagai olimpiade sains, apakah itu cukup menjadi parameter keberhasilan pendidikan nasional. Sepertinya, karakter hanya terurai dalam buku teks, namun minus dalam keteladanan dari para pembuat kebijakan, pendidik, dan masyarakat. Hossen Naser menulis. “ The goal of education is to enabe the soul to actualizer these potential possibilities, thereby perfecting it and preparing it for eternal life .” Tujuan pendidikan adalah membuat potensi-potensi dan kapasitas tersebut terasah dan dimungkinkan untuk aktif, dan tidak pasif, dan tidak tidur menuju kesempurnaan untuk dipersiapkan guna menghadapi hidup yang serba cepat di dunia dan hidup yang abadi di hari kemudian. Transformasi guru Zaman yang semakin berubah ...